Kontroversi Dualisme Klub Sepak Bola Persebaya Surabaya

Bagi pecinta sepak bola Indonesia, Siapa sih yang tidak kenal dengan salah satu klub sepak bola terkenal di Indonesia yaitu Persebaya ?. Persebaya atau kepanjangan dari Persatuan Sepakbola Surabaya merupakan klub sepak bola Indonesia yang berbasis di http://liga168.com/ Surabaya. Klub ini memiliki logo atau simbol Bajol Ijo dari bahasa daerah yang berarti Buaya Hijau. Simbol buaya diambil dari hewan simbolis yang menjadi legenda dari kota Surabaya itu sendiri. Julukan lain untuk klub sepak bola ini adalah Green Force yang berarti kekuatan hijau. Hijau merupakan warna yang diambil untuk klub sepak bola ini yang dituangkan dalam kostum para pemain. Klub sepak bola ini memiliki sporter yang bernama Bonek.

Persebaya merupakan klub yang cukup tua terbentuk di Indonesia. Klub sepak bola ini didirikan pada tanggal 18 Juni 1927, saat itu klub ini bernama Soerabhaiasche Indische Voetbal Bond ( SIVB ). Pembentukan awal klub sepak bola ini bertempat di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Dalam sejarah lengkapnya Persebaya didirikan oleh Paijo dan M. Pamoedji pada tanggal 18 Juni 1927. Pada awal Persebaya bernama SIVB yaitu pada tahun 1910, klub ini berisi para pemain dari orang – orang Belanda dan orang yang berada di wilayah Surabaya. Persebaya merupakan klub dengan segudang prestasi yang pernah ditorehkan dalam persepakbolaan Indonesia. Untuk Lebih jelasnya berikut adalah prestasi dari Persebaya:

Kontroversi Dualisme

Tahun Nama Prestasi
1941, 1950, 1951, 1952, 1975, dan 1987 Juara Perserikatan
1997 Juara Liga Indonesia
2004 Juara Liga Indonesia
2006 Juara Piala Gubernur Jawa Timur
2013 Juara Divisi Utama

 

Sebagai klub sepakbola yang berprestasi, ternyata Persebaya juga menyimpan kontroversi dalam sejarahnya yaitu tepatnya pada musim 2009 / 2010. Pada musim itu Persebaya ( PT Persebaya Indonesia ) mengalami degradasi ke Divisi Utama. Degradasi terjadi dikarenakan Persebaya dipaksa melakukan pertandingan ulang sebanyak 3 kali melawan Persik Kediri. Pertandingan tersebut terselenggaran di 3 tempat yang berbeda yaitu di Kediri, Yogyakarta, dan Palembang. Pada pertandingan ulang yang ketiga, Persebaya dan pihak manajemennya menolak untuk tanding ulang. Pihak manajemen Persebaya tidak terima, yang mengakibatkan Persebaya mengikuti liga ilegal yaitu “Liga Primer Indonesia”. Saat mengikuti liga ilegal itu, Persebaya mengubah nama menjadi Persebaya 1927 ( PT Persebaya Indonesia ).

Musim selanjutnya, Persikubar Kutai Barat diambil alih oleh Wisnu Wardhana untuk diubah nama menjadi Persebaya Surabaya (  yang kini berganti nama menjadi Bhayangkara FC ). Hal ini dilakukan agar Persebaya bisa mengikuti Liga Indonesia pada musim 2014. Namun, pada musim yang sama  tersebut sayangnya liga Indonesia diberhentikan setelah tidak diakui oleh Pemerintah, didikuti dengan di Banned nya Indonesia oleh FIFA. Musim selanjutnya, yaitu 2015 Persebaya Surabaya (  yang kini berganti nama menjadi Bhayangkara FC ) merubah nama menjadi Bonek FC dan Surabaya United. Pengubahan nama dilatarbelakangi oleh Persebaya 1927 ( PT Persebaya Indonesia ) yang memenangkan gugatan hak paten atas nama dan logo klub.  Hal ini berarti secara otomatis legalitas Persebaya Surabaya adalah dibawah PT Persebaya Indonesia.

Pada musim selanjutnya, yaitu tahun  2016, Surabaya United melakukan merger (menggabungkan diri) dengan PS Polri. Pada musim ini Surabaya United kembali merubah namanya menjadi Bhayangkara Surabaya United. Klub sepak bola ini berhasil mengikuti kompetisi Indonesia Soccer Championship. Selanjutnya, pada bulan Mei tahun 2016, Polri resmi membeli seluruh saham dan Bhayangkara Surabaya United.  Polri juga menghapus nama belakang klub ini, sehingga sekarang klub ini resmi bernama Bhayangkara FC. Pada bulan Mei tahun 2016 juga diputuskan bahwa Persebaya 1927 disahkan kembali sebagai anggota PSSI, hal ini berdasarkan  hasil rapat Exco yang digelar disolo. Pengesahan selanjutnya  yaitu akan dilakukan pada KLB di Makassar,  yang mengharapkan klub ini kembali berkompetisi di Divisi Utama pada musim tahun 2017. Hal ini berbeda dengan kongres PSSI yang terakhir, tepatnya dilakukan di Jakarta pada tanggal 10 Nopember 2016. Pada kongres ini PSSI yang diketuai Edy Rahmayadi membatalkan agenda pengesahan tersebut. Untuk selanjutnya, Ketua PSSI tersebut berjanji akan menyelesaikan permasalahan Persebaya pada kongres selanjutnya yang terselenggara di Bandung.

Demikian di atas merupakan artikel tentang kontroversi dualisme klub Persebaya dan berbagai informasi yang terkait lainnya. Semoga artikel ini dapat menjadi jawaban atas pertanyaan yang sedang Anda cari tahu jawabannya terkait dengan klub sepak bola kecintaan Anda ini, yaitu Persebaya.  Akhir kata terimakasih telah menyempatkan waktu untuk berkunjung dan membaca, serta semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *